Malam itu, di kosan sempit yang AC-nya bunyi krek-krek, aku scroll grup alumni kampus. Satu teman posting foto dirinya di depan kantor baru di Jakarta, lengkap dengan caption "finally, anak rantau bertahan juga." Dua jam sebelumnya, teman lain upload foto sawah di kampungnya, caption-nya cuma: "pulang itu pilihan, bukan kekalahan." Aku ketawa sendiri. Dua-duanya temanku, dua-duanya pintar, dan dua-duanya bikin aku makin bingung.
Kalau kamu mahasiswa perantau yang sebentar lagi lulus, kamu pasti ngerti rasanya. Ini bukan sekadar pertanyaan "mau kerja di mana." Ini pertanyaan soal harga diri, ekspektasi orang tua, dan — jujur aja — soal uang. Aku pernah di posisi itu, dan aku sempat salah pilih. Bukan karena pilihannya buruk, tapi karena aku memilih pakai alasan yang salah.
Dua Pilihan yang Sama-sama Dijual Sebagai "Jalan Benar"
Yang bikin pusing itu bukan pilihannya. Yang bikin pusing itu narasinya. Di kampus, ada semacam tekanan halus yang bilang: kalau kamu nggak kerja di kota besar, berarti kamu nggak maksimal. Kamu udah susah-susah kuliah jauh dari rumah, masak balik lagi?
Di sisi lain, ada juga narasi sebaliknya. Di media sosial, pulang kampung digambarkan sebagai keputusan mulia. Hidup tenang, dekat keluarga, kerja remote sambil ngopi di teras. Kedengeran idilis banget, kan?
Baca juga: Freelancer Baru Wajib Coba: 7 Langkah Menghadapi Wawancara Klien
Masalahnya, dua-duanya jualan mimpi. Dan mimpi yang dijual di internet itu nggak pernah nunjukin bagian yang nggak enak. Jadi waktu aku harus mutusin, aku bukan memilih berdasarkan fakta. Aku memilih berdasarkan mana yang kelihatan lebih keren di feed orang lain. Itu kesalahan pertamaku.
Yang Nggak Ada di Brosur: Biaya Tersembunyi Dua Pilihan Ini
Nih, hal-hal yang baru aku sadar setelah jalanin dua-duanya — aku sempat bertahan di kota setahun, lalu pindah pulang ke kampung. Jadi aku lumayan paham dua sisi.
Kalau bertahan di kota
- Gaji kelihatan besar, tapi habis di tempat tinggal. Kos, transport, makan, dan "uang senang-senang" bisa makan 60-70 persen gaji pertamamu. Aku pernah hitung, sisa tabunganku sebulan lebih kecil dari uang jajan adikku di kampung. Ngenes, tapi nyata.
- Jaringan itu nyata, tapi cuma kalau kamu aktif. Banyak yang bilang kota besar kasih "kesempatan lebih luas." Betul. Tapi kesempatan itu nggak datang sendiri. Kamu harus rajin datang ke acara, kenalan, dan — ini yang paling capek — kelihatan selalu semangat padahal udah tepar.
- Wawancara kerja lebih kompetitif, dan itu bisa bikin mental drop. Aku pernah ikut wawancara yang pesertanya 40 orang untuk satu posisi. Ditolak bukan karena nggak mampu, tapi karena ada yang lebih "cocok." Frase ini bikin aku overthinking seminggu.
Kalau pulang kampung
- Biaya hidup murah, tapi pilihan kerja sempit. Ini bukan rahasia. Di kampungku, lowongan yang sesuai jurusan bisa dihitung pakai jari. Kalau nggak ada, kamu harus kreatif atau kerja remote.
- Dekat keluarga itu berkah, sekaligus tekanan. Setiap hari ditanya "kapan nikah" atau "kapan dapet kerja tetap" itu bisa lebih melelahkan daripada macet di ibukota.
- Wawancara kerja bisa lebih santai, tapi kadang nggak profesional. Aku pernah diwawancarai sambil pemilik usaha makan siang. Nggak masalah buatku, tapi buat sebagian orang, proses kayak gini bikin ragu soal masa depan perusahaan.
Intinya bukan mana yang lebih baik. Intinya, mana yang biaya tersembunyinya paling bisa kamu tanggung.
Pertanyaan yang Seharusnya Aku Tanyain ke Diriku Sendiri
Kalau bisa balik waktu, aku nggak akan tanya "mana yang lebih bergengsi." Aku akan tanya empat hal ini, dan kamu mungkin perlu tanya juga:
Pertama, kamu tahan nggak dengan rasa kesepian? Ini bukan soal lemah atau kuat. Di kota, kamu bisa dikelilingi jutaan orang tapi nggak punya siapa-siapa buat cerita kalau hari ini berat. Di kampung, kamu dikelilingi keluarga tapi kadang nggak ada yang ngerti duniamu. Dua-duanya punya versi sepi masing-masing.
Kedua, apa definisi "cukup" buatmu? Kalau cukup itu berarti bisa nabung buat orang tua, mungkin kampung lebih masuk akal. Kalau cukup itu berarti punya portofolio dan pengalaman yang nggak ada di daerah, kota jawabannya. Tapi jujur, jangan bohongi diri sendiri. Aku dulu bilang "cari pengalaman," padahal aslinya takut dibilang nggak berhasil kalau pulang.
Ketiga, siapa yang kamu takuti? Ini pertanyaan paling nggak nyaman. Kadang kita bertahan di kota bukan karena mau, tapi karena takut omongan tetangga. Atau sebaliknya, pulang bukan karena yakin, tapi karena capek dan kabur. Pilihan yang diambil karena takut hampir selalu berakhir dengan penyesalan.
Keempat, apa rencana B kalau gagal? Mahasiswa perantau sering dibesarkan dengan mentalitas "harus berhasil." Padahal rencana B itu bukan tanda nggak serius. Justru tanda kamu dewasa. Aku dulu nggak punya rencana B, jadi waktu gagal, aku panik dan ambil keputusan buruk.
Yang Akhirnya Aku Pelajari (dan Nggak Ada di Buku Karier)
Setelah setahun di kota dan dua tahun di kampung, aku sadar satu hal yang mungkin klise tapi penting: pilihan ini nggak permanen. Kamu bisa pulang dulu, nabung, lalu merantau lagi. Atau bertahan di kota beberapa tahun, lalu pulang dengan bekal. Dunia kerja sekarang nggak se-kaku zaman orang tua kita.
Yang bikin pilihan ini berat bukan karena konsekuensinya nggak bisa diubah, tapi karena kita merasa harus langsung benar. Padahal karier itu kayak jalan kaki di kampung: kadang harus balik arah karena jalannya banjir. Nggak ada yang salah dengan itu.
Jadi buat kamu yang sekarang lagi galau di kosan, sambil buka laptop dan nggak tau harus ngelamar ke mana: tenang. Nggak ada jawaban yang benar untuk semua orang. Yang ada cuma jawaban yang jujur untuk kamu. Dan jujur itu nggak harus langsung. Kadang kita baru tau jawabannya setelah nyoba, gagal, dan nangis di kamar mandi kos. Itu nggak apa-apa.
Yang penting, jangan pilih cuma biar kelihatan keren di mata orang lain. Karena pada akhirnya, yang ngejalanin hidupmu ya kamu, bukan feed mereka.