Dulu saya pikir merekrut karyawan itu gampang. Tinggal pasang lowongan, tunggu lamaran masuk, panggil yang CV-nya paling rapi, wawancara sebentar, lalu deal. Ternyata oh ternyata, pengalaman pertama saya merekrut orang untuk usaha kecil justru jadi salah satu momen paling bikin saya belajar banyak soal dunia kerja.
Waktu itu usaha saya baru jalan setahun. Saya jualan produk rumahan, dan order mulai numpuk sampai saya kewalahan sendiri. Akhirnya saya memutuskan cari satu orang untuk bantu packing dan urus pesanan. Simpel, kan? Ternyata nggak sesimpel itu.
Kandidat Pertama yang Bikin Saya Salah Paham
Kandidat pertama yang saya wawancara kelihatan sempurna di atas kertas. Pengalaman kerja bertahun-tahun, ngomongnya lancar, bahkan bisa jawab semua pertanyaan saya dengan jawaban yang terdengar "benar". Saya langsung jatuh hati. Dalam hati saya sudah bilang, "Ini orangnya."
Percakapan kami waktu itu kurang lebih begini. Saya tanya, "Kalau ada pesanan yang harus dikirim hari ini tapi barangnya belum datang dari supplier, kamu ngapain?" Dia jawab dengan jawaban textbook: "Saya akan koordinasi dengan semua pihak terkait dan memastikan pengiriman tetap berjalan sesuai SOP."
Baca juga: Coba Trik 15 Menit Sebelum Wawancara Kerja di Kota Kecil
Kedengarannya bagus, ya? Tapi waktu saya tanya lebih dalam, "SOP-nya di sini belum ada, kamu bakal ngapain kalau belum ada SOP-nya?" dia malah bingung dan balik nanya ke saya. Di situ saya mulai curiga. Ternyata selama ini dia cuma hafal jawaban wawancara, bukan benar-benar punya cara berpikir untuk menyelesaikan masalah.
Singkat cerita, saya tetap rekrut dia karena terburu-buru butuh orang. Dan.... ya, bisa ditebak. Tiga minggu kemudian dia resign karena katanya "kerjaannya terlalu banyak dan nggak jelas". Padahal saya sudah jelasin dari awal ini usaha kecil, semua serba serba bisa, belum ada sistem yang mapan.
Wawancara Itu Bukan Ujian, tapi Ngobrol Serius
Dari kejadian itu saya sadar satu hal besar: wawancara bukan soal siapa yang paling jago jawab pertanyaan, tapi soal siapa yang paling cocok dengan kondisi usaha kita. Apalagi usaha kecil. Kita nggak punya tim HRD yang bisa nge-filter kandidat, nggak punya sistem onboarding yang rapi, dan sering banget kerjaannya campur aduk.
Jadi kalau kamu pemilik usaha kecil yang lagi cari karyawan pertama atau tambahan, ini yang saya pelajari dari kesalahan saya sendiri.
1. Ceritakan kondisi asli, jangan dijual manis
Saya dulu agak malu ngomong kalau usaha saya masih "berantakan". Tapi justru itu yang bikin karyawan salah ekspektasi. Sekarang, setiap wawancara, saya selalu buka dengan kalimat seperti, "Di sini belum ada sistem yang fix, kamu bakal sering kerja di luar job desc, dan kadang harus bantu hal-hal yang nggak ada di kontrak." Kalau kandidat mundur setelah dengar itu, ya bagus. Lebih baik mundur di awal daripada resign di tengah jalan.
2. Tanya pengalaman nyata, bukan jawaban ideal
Pertanyaan seperti "apa kelebihan dan kekurangan kamu" itu udah basi banget. Saya sekarang lebih suka nanya hal spesifik. Misalnya, "Ceritain waktu kamu harus kerja di bawah tekanan deadline yang nggak masuk akal. Kamu ngapain?" atau "Pernah nggak kamu salah ngirim barang atau bikin kesalahan yang bikin rugi? Gimana kamu handle?" Jawaban dari pertanyaan kayak gini jauh lebih jujur dan nunjukin cara berpikir asli mereka.
Hal yang Sering Saya Lupakan Waktu Wawancara
Selain dua hal di atas, ada beberapa poin yang sering saya lupa padahal penting banget untuk usaha kecil.
- Cek apakah mereka nyaman kerja multitasking. Di usaha kecil, job desc itu sering cuma formalitas. Karyawan bisa jadi packing pagi, customer service siang, dan bantu laporan sore. Kalau kandidat nggak nyaman dengan hal ini, mending jangan dipaksa.
- Tanya soal ekspektasi gaji secara terbuka. Jangan takut ngomongin duit di awal. Saya pernah nggak nanya dan baru tahu ekspektasi gaji kandidat jauh di atas budget saya setelah dua kali wawancara. Buang waktu dua belah pihak.
- Libatkan karyawan lama kalau ada. Kadang intuisi saya sebagai pemilik usaha nggak selalu akurat. Karyawan lama yang bakal kerja bareng dia sehari-hari biasanya punya feeling yang lebih tajam soal cocok atau nggaknya.
Yang paling penting, saya belajar untuk nggak buru-buru. Dulu saya rekrut orang karena panik butuh bantuan. Sekarang saya lebih sabar, karena salah pilih orang itu biayanya jauh lebih mahal daripada nunggu seminggu lagi cari kandidat yang pas. Bukan cuma soal gaji yang udah keluar, tapi waktu dan energi untuk melatih dari nol, plus drama kalau dia resign tiba-tiba.
Rekrutmen itu investasi, bukan belanja cepat saji. Kalau salah pilih, bukan cuma dompet yang kena, tapi juga mood kerja satu tim.
Kalau kamu sekarang lagi di posisi lagi cari karyawan untuk usaha kecil, saran saya satu: jujur sama kondisi usaha kamu, dan tanya hal-hal yang bikin kandidat nunjukin diri mereka yang sebenarnya. Nggak perlu pertanyaan njlimet. Cukup ngobrol serius dan dengerin jawabannya. Dari situ kamu bakal tahu siapa yang benar-benar mau kerja bareng kamu, dan siapa yang cuma butuh kerjaan sementara.
Pengalaman pertama saya merekrut itu memang berakhir gagal. Tapi justru dari situ saya belajar bahwa wawancara yang baik itu bukan soal mencari orang sempurna, tapi mencari orang yang tepat untuk kondisi yang ada. Dan buat usaha kecil, itu bedanya besar banget.