Gue sering dapat DM dari teman-teman pemilik usaha kecil. Kedai kopi, toko bangunan, jasa desain, sampai bengkel motor. Pertanyaannya hampir selalu sama: soal orang. Soal cari karyawan, soal wawancara, soal kenapa orang yang baru masuk dua bulan tiba-tiba hilang tanpa kabar. Jadi tulisan ini gue susun dari pertanyaan-pertanyaan yang paling sering muncul itu. Bukan jawaban tekstbook, tapi jawaban dari pengalaman gue ngobrol sama puluhan pemilik usaha kecil yang kadang salah langkah, kadang beruntung.
"Saya kan cuma usaha kecil, perlu wawancara serius nggak sih?"
Ini pertanyaan nomor satu. Jawabannya: justru karena kecil, kamu nggak punya ruang untuk salah orang. Usaha gede bisa menelan biaya salah rekrut. Kamu nggak bisa. Satu orang yang salah masuk di tim berisi lima orang itu efeknya kerasa banget — mood tim rusak, kerjaan numpuk, dan kamu yang akhirnya lembur benerin semuanya.
Tapi "serius" di sini bukan berarti harus pakai tes psikologi berlapis atau panel interview tiga orang. Nggak usah. Wawancara serius buat usaha kecil itu simpel: kamu duduk, ngobrol 30-40 menit, dan benar-benar mendengar. Yang sering terjadi justru sebaliknya — pemilik usaha sibuk, akhirnya wawancara cuma 10 menit sambil sesekali buka HP. Ya wajar hasilnya asal-asalan.
Baca juga: Freelancer Baru Wajib Coba: 7 Langkah Menghadapi Wawancara Klien
Baca Juga: comtotoweb.website
Anggap wawancara itu investasi 40 menit yang bisa menyelamatkan kamu dari tiga bulan drama.
"Pertanyaan apa yang paling penting saya tanyakan?"
Banyak pemilik usaha kecil terjebak bertanya hal-hal yang ada di CV. Padahal itu sudah ada di kertas. Buang-buang waktu. Yang lebih berguna itu pertanyaan yang nggak bisa dijawab dengan "iya" atau "bisa".
Gue kasih tiga yang paling sering gue sarankan:
- "Ceritain satu hari kerja kamu di tempat sebelumnya, dari datang sampai pulang." Dari sini kamu dengar ritme kerjanya, apakah dia terbiasa kerja cepat atau santai, dan apakah cocok dengan irama usahamu.
- "Kalau kamu dapat masalah yang nggak ada solusinya di panduan, kamu biasanya ngapain?" Ini buat lihat apakah dia orang yang diam menunggu atau bergerak mencari jalan. Usaha kecil butuh yang kedua.
- "Kenapa kamu keluar dari tempat lama?" Klise, tapi jawabannya sering membocorkan banyak hal. Kalau dia menjelek-jelekkan semua bos sebelumnya tanpa jeda, itu sinyal.
Dan satu lagi yang sering dilupakan: tanya balik. "Menurut kamu, kerja di usaha seukuran kami ini bakal beda gimana dari tempat kamu sebelumnya?" Jawaban jujurnya bisa menyelamatkan kamu dari orang yang sebenarnya cuma butuh kerja sementara sambil nunggu panggilan perusahaan besar.
Soal gaji, jangan dihindari
Banyak pemilik usaha kecil merasa canggung ngomong angka di awal. Akhirnya wawancara jalan dua putaran, eh di akhir ternyata ekspektasinya jauh. Buang waktu dua-duanya. Bicarakan di wawancara pertama, dengan rentang yang jelas. Kamu nggak perlu bilang angka pasti, tapi bilang batas atasnya. Kalau ekspektasi dia di atas itu, selesai di situ, sopan-sopan. Nggak ada yang terluka.
"Kenapa karyawan baru sering kabur di bulan pertama?"
Ini bukan pertanyaan soal wawancara, tapi hampir selalu muncul di obrolan. Dan jawabannya jarang soal orangnya. Seringnya soal ekspektasi yang nggak pernah dikomunikasikan.
Waktu wawancara, kamu menggambarkan pekerjaan sebaik mungkin — dan itu wajar, semua orang mau kandidat terbaiknya tertarik. Tapi kalau kamu melebih-lebihkan, orang yang masuk akan kaget. Dia bayangkan kerja di tempat rapi, ternyata hari pertama disuruh bantu bongkar barang. Nggak salah, tapi nggak sesuai bayangan. Kekecewaan kecil begini yang numpuk jadi alasan dia hilang di minggu keenam.
Solusinya membosankan tapi ampuh: jujur soal bagian yang nggak enak. "Di sini kadang Sabtu harus masuk kalau ada pesanan numpuk." "Kantor kita masih satu ruangan sama gudang, jadi berisik." Sampaikan di wawancara. Kandidat yang tetap mau setelah dengar itu justru kandidat yang kamu cari.
"Saya nggak punya tim HR, gimana caranya nggak kewalahan?"
Realistis aja: kamu nggak akan pernah punya proses rekrutmen serapi perusahaan besar, dan nggak perlu. Yang kamu butuhkan cuma tiga hal yang konsisten.
Pertama, catatan singkat. Setiap selesai wawancara, tulis tiga baris: kesan umum, satu kekhawatiran, satu hal yang bikin dia menarik. Kalau kamu wawancara lima orang dalam seminggu, ingatanmu bakal campur aduk. Catatan tiga baris itu penyelamat.
Kedua, satu orang pembanding. Ajak satu karyawan lama ikut ngobrol santai sama kandidat, 10 menit saja. Bukan buat menilai, tapi buat kasih perspektif. Kadang karyawan lama melihat hal yang kamu lewatkan — misalnya kandidatnya kelihatan nggak nyaman sama cara kerja tim kamu.
Ketiga, jangan buru-buru. Ini yang paling susah. Posisi kosong itu nyesek, bikin kamu pengin terima siapa saja yang kelihatan cukup. Tapi satu orang yang salah itu biayanya lebih besar daripada dua minggu tambahan mencari. Gue pernah lihat kedai kecil yang akhirnya tutup karena pemiliknya kelelahan menutupi kerjaan karyawan yang salah pilih dua kali berturut-turut. Bukan karena produknya jelek.
Yang terakhir, dan mungkin paling penting
Wawancara itu bukan ujian buat kandidat saja. Kamu juga sedang dinilai. Kandidat yang bagus itu biasanya punya pilihan lain, dan dia akan menilai apakah usahamu terasa layak. Jadi jangan cuma bertanya — jelaskan juga. Ceritakan bagaimana usaha ini jalan, apa yang sedang kamu bangun, dan bagaimana orang yang masuk bisa ikut tumbuh. Pemilik usaha kecil sering lupa bahwa mereka punya satu hal yang jarang dimiliki perusahaan besar: kedekatan. Kamu bisa bilang "kalau kamu punya ide, langsung bilang ke saya." Itu daya tarik yang nyata.
Jadi tiap awal bulan, sebelum kamu sibuk lagi sama pesanan dan tagihan, luangkan sebentar buat jawab empat pertanyaan di atas. Bukan buat bikin sistem rekrutmen yang canggih, tapi biar kamu nggak lagi-lagi berakhir lembur karena salah orang. Pengalaman gue, pemilik usaha yang sempat memikirkan hal ini sekali saja biasanya langsung sadar bagian mana yang selama ini dia lewatkan.