Baru pertama kali hidup mandiri itu rasanya campur aduk. Di satu sisi kamu bebas, di sisi lain kamu sadar dompet nggak selebar dulu waktu masih ditopang orang tua. Terus muncul deh pikiran: oke, gue harus hemat. Tapi hemat yang gimana dulu nih?
Gue pernah di fase yang salah banget soal ini. Demi menghemat, gue skip beli kuota internet yang layak, nggak pernah ikut acara networking karena takut keluar uang, dan milih ngekos paling murah yang sinyalnya kayak dial-up. Hasilnya? Kerjaan jadi lambat, kesempatan lewat, dan gue ngerasa karier gue jalan di tempat. Hematnya dapat, tapi hasilnya hancur.
Nah, dari situ gue belajar satu hal: hemat itu bukan soal memotong semua pengeluaran. Hemat itu soal tahu mana yang boleh ditekan dan mana yang justru investasi. Buat kamu yang baru mulai hidup mandiri, ini yang gue pelajari.
Pisahkan Biaya "Bertahan Hidup" dan Biaya "Naik Kelas"
Pengeluaran kamu tuh sebenernya ada dua jenis. Yang pertama biaya bertahan hidup: makan, transport, sewa, listrik. Yang kedua biaya naik kelas: internet yang stabil, laptop yang nggak lemot, buku, kursus, atau ongkos ke acara yang bisa nambah koneksi.
Baca juga: Gimana Rasanya Ditolak Kerja di Kampung Sendiri? Ini Ceritaku
Kesalahan gue dulu adalah menekan dua-duanya rata. Padahal yang kedua itu justru yang bikin karier kamu maju. Kamu bisa makan sederhana tiap hari, itu nggak masalah. Tapi kalau sampai ngehemat kuota internet sampai kerjaan kamu jadi lambat, itu bukan hemat, itu bumerang.
Hemat yang bener bukan yang bikin kamu bertahan, tapi yang bikin kamu bisa naik.
Jadi sebelum memotong sesuatu, tanya dulu: ini biaya bertahan hidup atau biaya naik kelas? Kalau yang kedua, pikir dua kali sebelum dipangkas.
Jangan Sampai Hemat Bikin Kamu Kelihatan Nggak Siap
Ini yang sering nggak disadari anak muda. Kamu ngehemat buat beli baju wawancara, misalnya, terus akhirnya datang ke interview pakai kemeja lusuh karena "sayang beli baru". Atau kamu nggak ikut tes karena ongkos ke lokasi tes kepotong budget jajan.
Gue pernah hampir kena jebakan ini. Waktu itu ada panggilan interview di kota sebelah. Ongkos pulang-pergi lumayan. Gue sempat mikir, "ah, mahal, skip aja." Untung gue urungkan. Ternyata itu jadi salah satu pintu karier yang paling ngebantu gue sampai sekarang.
Poinnya, ada pengeluaran yang fungsinya bukan buat gaya-gayaan, tapi buat nunjukin kamu siap. Kemeja rapi, transport ke lokasi wawancara, kuota buat video call, itu semua biaya yang hasilnya balik ke kamu sendiri. Jangan pelit di sini.
Cara gampangnya: hitung "biaya per kesempatan"
Kalau kamu bingung mana yang worth it, coba hitung kasar. Ongkos 50 ribu buat interview yang peluangnya bikin gaji kamu naik jutaan? Itu murah banget. Tapi langganan yang bikin kamu rebahan seharian? Itu yang mahal, meskipun nominalnya kecil.
Yang Boleh Kamu Tekan Tanpa Rasa Takut
Sekarang bagian yang aman buat dihemat. Ini daftar yang menurut gue paling nggak ngaruh ke hasil kerja atau karier kamu:
- Gaya hidup konsumtif — kopi kekinian tiap hari, langganan yang nggak kepake, beli gadget cuma biar update. Ini aman dipangkas.
- Tempat tinggal yang "premium" — selama sinyal dan akses transport oke, nggak perlu ngejar kos mahal cuma buat estetik.
- Transport yang boros — kalau bisa gabung atau pakai yang lebih murah tanpa bikin telat kerja, kenapa nggak.
- Makan di luar tiap hari — masak atau bawa bekal bisa hemat banyak, dan ini nggak ngaruh ke performa kerja kamu.
Yang penting di sini: hemat kamu harus punya tujuan. Kalau kamu cuma ngirit tanpa tahu buat apa, ujungnya kamu cuma ngerasa sengsara tanpa hasil. Tapi kalau kamu ngirit buat dana darurat atau buat kursus, rasanya beda. Ada yang dikejar.
Bangun "Dana Aman" Biar Nggak Panik
Ini yang sering dilupain anak muda yang baru mandiri. Kamu ngerasa hemat itu cukup buat bulan ini. Padahal hidup suka ngasih kejutan: laptop rusak, harus beli tiket pulang mendadak, atau ada biaya tak terduga lain.
Informasi selengkapnya bisa dibaca di Petatoto.
Kalau kamu nggak punya dana aman, satu kejutan aja bisa bikin kamu ngutang atau jual barang. Dan itu justru bikin pengeluaran kamu meledak. Jadi sisihkan sedikit tiap bulan, walaupun kecil. Anggap aja ini biaya buat ketenangan pikiran kamu.
Gue sendiri dulu ngerasa 100 ribu sebulan buat dana aman itu nggak berarti. Tapi setelah setahun, ternyata lumayan. Waktu laptop gue mati, gue nggak panik dan nggak harus minjem. Itu ngebantu banget buat kerjaan yang harus tetep jalan.
Opini Gue: Hemat Itu Soal Prioritas, Bukan Soal Sengsara
Banyak anak muda yang baru mandiri ngerasa jadi orang hemat itu harus menderita. Harus nolak semua ajakan, harus nggak pernah jajan, harus selalu milih yang paling murah. Menurut gue itu keliru.
Hemat yang sehat itu adalah kamu tahu mana yang penting buat kamu dan karier kamu, lalu kamu belanja di situ tanpa ragu, dan kamu tekan yang lain. Kamu boleh beli kopi mahal kalau itu bikin kamu semangat kerja. Kamu boleh ikut acara yang bayar kalau itu nambah koneksi. Tapi ya, konsekuensinya, kamu harus nahan diri di tempat lain.
Jadi buat kamu yang baru mulai hidup mandiri, coba tekan biaya dengan cara yang pinter. Jangan sampai penghematan kamu malah bikin karier kamu mandek atau bikin kamu kelihatan nggak siap di depan pewawancara. Karena pada akhirnya, tujuan kamu hemat bukan biar kamu kelihatan pelit, tapi biar kamu bisa melangkah lebih jauh tanpa selalu kepikiran dompet.
Mulai dari yang kecil aja minggu ini. Cek pengeluaran kamu, tandai mana yang bikin kamu maju dan mana yang cuma bikin kamu nyaman. Setelah itu, kamu bakal tahu harus ngirit di mana.