Gue masih inget banget hari itu. Lagi duduk di teras rumah, nemu pengumuman lowongan kerja di papan desa. Sebuah toko bangunan lagi cari admin. Kelihatannya sepele, tapi buat gue waktu itu, itu kesempatan emas. Gue baru balik dari kota, bawa ijazah, tapi dompet tipis. Nggak pikir panjang, gue siapin berkas dan datang wawancara.
Hasilnya? Ditolak. Bukan cuma ditolak, tapi ditolak dengan alasan yang bikin gue diem lama. "Kamu terlalu pintar buat kerja di sini, nanti cepat bosan." Kalimat itu keluar dari mulut pemilik toko, sambil senyum. Gue bingung mau marah atau ketawa.
Dari situ gue mulai sadar, dunia kerja di kampung itu punya aturan main sendiri. Nggak selalu sama kayak yang diajarin di buku atau yang gue alami waktu magang di kota. Dan pelajaran-pelajaran ini yang mau gue bagi ke kamu, terutama buat yang tinggal di kota kecil atau desa dan lagi nyari kerja.
Wawancara di Kampung Bukan Sekadar Tanya Jawab
Waktu wawancara di toko bangunan itu, pertanyaannya sederhana. "Bisa komputer?" "Bisa." "Mau kerja jam berapa?" "Jam berapa aja pak." Kelihatannya gampang, kan? Tapi yang bikin beda, mereka nggak cuma nilai skill. Mereka nilai kamu bisa nyambung sama orang-orang di sekitar atau nggak.
Baca juga: Hati-hati Salah Rekrut, Pemilik Usaha Sering Abaikan Ini
Di kota besar, perusahaan mungkin lihat CV, portofolio, dan hasil tes. Di kampung, pemilik usaha seringnya orang yang kamu kenal atau minimal kenal bapak kamu. Jadi wawancara itu campuran antara cek kemampuan dan cek reputasi keluarga. Kalau kamu dikenal sering bantu di masjid atau rajin ikut kerja bakti, itu nilai plus yang nggak tertulis di lowongan.
Gue belajar satu hal penting: jangan remehkan obrolan sebelum wawancara. Kadang obrolan soal panen atau acara desa itu bagian dari penilaian. Bukan basa-basi doang.
Di kampung, wawancara dimulai jauh sebelum kamu duduk di kursi. Dimulai dari gimana kamu bersikap di jalan, di warung, di mana pun.
Kenapa "Terlalu Pintar" Bisa Jadi Alasan Ditolak
Ini yang paling bikin gue mikir lama. Kenapa punya ijazah tinggi malah bikin ragu pemilik usaha? Setelah ngobrol sama beberapa kenalan yang punya usaha kecil, jawabannya masuk akal. Mereka takut karyawan yang "terlalu pintar" cuma pakai posisi itu sebagai batu loncatan. Begitu ada lowongan di kota, langsung cabut. Buat usaha kecil, ganti karyawan itu mahal dan melelahkan.
Gue nggak bilang ini benar. Tapi ini realita yang perlu kamu tahu. Jadi waktu wawancara, tunjukin kalau kamu serius dan mau bertahan. Ceritain alasan kamu balik ke kampung. Kalau kamu memang mau jangka panjang, bilang. Kalau nggak, jangan bohong juga, nanti ribet sendiri.
Cara Menyikapinya Tanpa Kehilangan Jati Diri
Kamu nggak perlu pura-pura jadi orang lain. Cukup tunjukin niat yang jelas. Misalnya: "Saya balik ke sini karena mau bantu usaha keluarga sambil kerja." Atau: "Saya pengen kerja dekat rumah, biar bisa bantu orang tua." Alasan personal kayak gini lebih dipercaya daripada jawaban ngawang-ngawang.
Dan satu lagi, jangan minder sama ijazah atau pengalaman kamu. Justru tunjukin gimana ilmu itu bisa bantu usaha kecil. Misalnya kamu bisa bantu bikin catatan stok lebih rapi, atau bantu promosi lewat grup WhatsApp. Pemilik usaha kecil biasanya seneng kalau karyawannya bawa ide baru yang praktis.
Peluang Kerja di Desa Itu Sempit, Tapi Bukan Berarti Mati
Setelah ditolak, gue sempat pesimis. Rasanya kayak: di kota kalah, di kampung juga kalah. Tapi pelan-pelan gue sadar, peluang di desa itu bentuknya beda. Nggak banyak lowongan formal, tapi banyak kerjaan yang nggak diumumin. Mulai dari bantu jaga warung, jadi kurir antar barang, sampai bantu administrasi koperasi desa.
Kuncinya cuma satu: aktif nanya. Gue dulu malu nanya-nanya ke tetangga soal kerjaan. Ternyata justru dari obrolan nggak sengaja itu, gue dapet kerjaan sampingan ngurus pembukuan di koperasi. Nggak besar, tapi cukup buat napas.
- Rajin datang ke acara desa, sering ada info kerjaan dari obrolan
- Tanya langsung ke pemilik usaha, jangan nunggu lowongan diumumin
- Tawarin skill kecil yang berguna, kayak bikin laporan atau bantu promosi
- Jaga reputasi, karena di kampung kabar cepat nyebar
Gue nggak akan bilang ini gampang. Kadang masih kesel juga kalau inget penolakan itu. Tapi sekarang gue sadar, penolakan itu bukan soal gue nggak mampu. Itu soal kecocokan, dan kecocokan di kampung punya ukuran yang beda.
Apa yang Gue Lakukan Kalau Kamu Ada di Posisi Gue
Pertama, jangan langsung ngerasa rendah diri karena tinggal di desa. Justru di sini kamu bisa bangun reputasi lebih cepat. Di kota, kamu cuma satu dari ribuan pelamar. Di kampung, kamu bisa dikenal dan dipercaya dalam hitungan bulan.
Kedua, siapin jawaban wawancara yang jujur soal alasan kamu kerja di sini. Jangan jawab "cari pengalaman" doang, karena itu bikin pemilik usaha mikir kamu bakal cepet pindah. Ketiga, jangan takut mulai dari kerjaan kecil. Gue sendiri mulai dari bantu-bantu koperasi, dan dari situ peluang lain muncul.
Ditolak kerja di kampung sendiri itu nggak enak. Tapi kalau dipikir lagi, itu yang bikin gue lebih paham cara main di dunia kerja desa. Dan buat kamu yang lagi nyari kerja di kota kecil, semoga cerita ini bikin kamu nggak merasa sendirian. Kita sama-sama belajar, pelan-pelan tapi jalan terus.