Gue pernah duduk di kursi wawancara sebuah pabrik di kecamatan, ngobrol sama anak muda yang baru lulus SMK. Dia cerita, katanya kalau nggak punya kenalan orang dalam, percuma saja melamar. Dengar itu gue cuma bisa senyum. Bukan karena dia salah total, tapi karena dia sudah kalah sebelum bertanding. Padahal di kota kecil kayak tempat kita tinggal, banyak banget anggapan soal kerja yang diwariskan dari mulut ke mulut, dari warung ke warung, tanpa pernah dicek beneran benar atau nggak.
Nah, beberapa mitos ini kalau dipercaya mentah-mentah justru bisa bikin langkahmu mandek. Kita bedah satu-satu, sekalian gue kasih jalan keluarnya.
Mitos 1: Kerja di Kampung Itu Nggak Ada Prospek
Ini mitos paling awet. Seolah-olah kalau kamu nggak merantau ke kota besar, kariermu selesai. Padahal coba lihat sekeliling. Toko bangunan yang makin ramai, jasa servis AC yang antre pesanan, warung kopi yang buka cabang. Semua itu butuh orang yang bisa dipercaya buat ngelola.
Baca juga: Coba Jawab 5 Pertanyaan Wawancara Ini Sebelum Berangkat Kerja
Gue sendiri pernah kerja di perusahaan kecil di daerah, dan justru di situ gue belajar banyak hal sekaligus. Di kota besar, kamu mungkin cuma jadi satu sekrup kecil di mesin raksasa. Di kota kecil, kamu bisa pegang banyak peran, dan itu bikin kamu cepat matang. Jadi bukan soal di mana, tapi gimana kamu main di tempat kamu berada.
Prospek bukan soal lokasi, tapi soal seberapa banyak masalah yang bisa kamu selesaikan di tempat itu.
Mitos 2: Nilai Rapor Harus Bagus Banget Biar Diterima Kerja
Banyak yang percaya, kalau nilai sekolah biasa-biasa saja, ya sudah, tamat riwayat. Ini keliru besar, terutama untuk kerja di usaha kecil dan menengah yang jadi tulang punggung ekonomi di daerah kita.
Pemilik usaha di kampung biasanya lebih peduli sama tiga hal: apakah kamu bisa datang tepat waktu, apakah kamu jujur, dan apakah kamu mau belajar. Nilai rapor memang dilihat, tapi bukan satu-satunya penentu. Gue kenal seorang montir di bengkel dekat pasar yang dulu nilai matematikanya jeblok, tapi sekarang jadi orang yang paling dicari kalau ada motor mogok. Skill dan sikap, itu yang dijual di lapangan.
Yang Bisa Kamu Lakukan
- Kumpulkan bukti nyata: sertifikat kursus, pengalaman bantu usaha keluarga, atau proyek kecil yang pernah kamu kerjakan.
- Latih jawaban jujur soal kelemahanmu, jangan pura-pura sempurna.
- Tunjukkan contoh konkret kapan kamu pernah menyelesaikan masalah, sekecil apa pun.
Mitos 3: Wawancara Itu Ajang Diuji, Bukan Ngobrol
Ini yang bikin banyak orang kaku sampai lupa diri. Mereka datang ke wawancara seperti menghadapi ujian, hafal jawaban, tapi lupa bahwa pewawancara juga manusia yang cuma mau tahu kamu cocok atau nggak.
Gue pernah ngobrol sama seorang kepala toko yang bilang, dia paling malas kalau pelamar jawabnya seperti membaca buku. Yang dia cari justru orang yang bisa ngobrol santai tapi tetap jelas. Jadi cobalah ubah cara pandang. Wawancara itu dua arah. Kamu juga berhak bertanya soal jam kerja, gaji, dan suasana tempat kerja. Kalau kamu cuma diam dan mengangguk, kamu kehilangan kesempatan tahu apakah tempat itu memang cocok buatmu.
Ada satu hal kecil yang sering dilupakan: bawa catatan. Nggak perlu tebal, cukup poin-poin pertanyaan. Ini kelihatan sepele, tapi bikin kamu terlihat serius dan terorganisir. Di mata pemilik usaha kecil, tanda-tanda kecil seperti ini sering lebih meyakinkan daripada sederet pujian di CV.
Mitos 4: Gaji Pertama Itu Penentu Masa Depan
Banyak anak muda di daerah kita menolak kerja karena gajinya dianggap kecil. Mereka bandingkan dengan angka di media sosial, padahal itu bukan gambaran nyata. Gaji pertama memang penting, tapi bukan segalanya.
Yang lebih menentukan justru apa yang kamu pelajari di tahun pertama. Kalau di tempat kerja itu kamu bisa belajar mengelola uang, berhadapan dengan pelanggan, atau mengurus barang, itu modal yang nilainya jauh lebih besar dari selisih gaji beberapa ratus ribu. Gue pernah menerima tawaran kerja dengan gaji lebih kecil, tapi di situ gue belajar banyak hal yang akhirnya membuka pintu berikutnya. Jadi sebelum menolak, tanyakan dulu: apa yang bisa gue bawa pulang selain gaji?
Mitos 5: Harus Punya Pengalaman Dulu Baru Bisa Kerja
Ini lingkaran setan yang bikin banyak orang berhenti melamar. Katanya, kerja butuh pengalaman, tapi pengalaman didapat dari kerja. Gimana solusinya?
Jalan keluarnya sederhana: ciptakan pengalamanmu sendiri. Bantu usaha tetangga selama sebulan, ikut jadi panitia acara desa, atau tawarkan jasa kecil-kecilan. Semua itu bisa kamu tulis sebagai pengalaman. Yang penting kamu bisa cerita apa yang kamu lakukan dan apa hasilnya. Pewawancara nggak selalu butuh pengalaman di perusahaan besar, mereka butuh bukti bahwa kamu pernah bertanggung jawab atas sesuatu.
Jadi, mulai sekarang coba saring lagi anggapan-anggapan yang beredar di sekitar kita. Nggak semua salah, tapi nggak semua juga benar. Kalau kamu percaya mitos tanpa dicek, yang rugi ya kamu sendiri. Mending kamu uji dulu, tanya orang yang memang sudah di bidangnya, lalu ambil langkah. Karier itu bukan soal keberuntungan semata, tapi soal seberapa berani kamu melangkah meski ada suara-suara yang bilang kamu nggak akan bisa.